Blog ini berisi naskah buku karya M Shodiq Mustika & Aisha Chuang, Raihlah Surgamu: Renungan tentang Cinta dan Kehidupan (Yogyakarta: Qudsi Media, November 2007)
Daftar Isi
0. Kata Pengantar: Pesan Terakhir?
Kala Tuhan Memanggil
Persinggahan Sementara
Butuh Proses dan Pertumbuhan
Tuntaskan Karya ‘Terakhir’
1. Surat Cinta Ketigabelas
Surat-Surat Spesial di Bibir Mungilmu
Uji Taqwa Ni Ye…
2. Pesan Misterius dari Masa Depan
‘Malam Pertama’ di Alam Kubur
Pertanyaan Yang Menohok Ulu Hati
Sedang Baca, Kenapa Tetap Disuruh Baca?
Kalau Benar-Benar Mencintai, Maka…
Ciumi Surat-Surat Kekasih Sepenuh Gairah
3. Siaran dari Atas Kain Kafan
Bagai Musafir Kehausan
Erat-Erat Didekap Kain Kafan
Walau Hanya Sepatah Kata
4. Suara Emas dari Seberang
Modal Dengkul di Rimba Belantara
Guru Yang Belajar, Murid Yang Mengajar
5. Tujuh Ciri ‘Sok Tahu’
1) Enggan Membaca
2) Enggan Menulis
3) Suka Menyimpulkan Tanpa Dasar Yang Kuat
4) Suka Berdebat Tanpa Pertimbangan Matang
5) Mengandalkan Keluasan Pengetahuan
6) Mengandalkan Gelar dan Ijazah
7) Menempatkan Diri sebagai ‘Maha Satpam’
6. Jadilah Profesor Cintaku, Dik!
Ketika Gelap Tiba
Jalan Buntu di Depan Kita
Di Jalan Ilmu, Siapakah Aku?
Kepadamu Aku Berserah Diri, Prof!
Demi Ketenangan Hidupmu
Ketika Terang Tiba
7. Ketika Musim Penasaran Tiba
Ketika Pengetahuan Melimpah
Copy the Master
8. Kendaraan Profesor ke Surga
Silakan Pilih Profesor Favorit
Teknologi Tepat Guna
Ngapain Ngobral Kata-Kata?
Program Jangka Pendek-Panjang
9. Mengintip Bidadari dengan Cinta
Siapa Dimuliakan Tuhan?
Bukan Kemiskinan Yang Kucemaskan
Kulihat Bidadari di Layar Hitam-Putih
Kudekati Surga dengan Cinta
Lampiran-Lampiran:
Kearifan Seorang Kyai Muda
Hari Ke-1: Perkenalan
Hari Ke-2: Pengecekan
Hari Ke-3: Penerimaan
Hari Ke-4: Penyeleksian
Tanggapan Sang Kyai Muda
Jawaban Dewi Pelangi
Daftar Pustaka
Tentang Penulis
Apa yang membuat pendeta di postingan ["Berkat Sedekah Sepotong Roti"] ini bisa bersumpah demi Allah. Seorang Kristen tidak boleh memakai nama Tuhan dengan sembarangan apalagi bersumpah. Apa kriteria manusia bisa masuk surga menurut Anda? Dengan mengamalkan roti seperti dalam cerita ini? Apa yang membuat orang ini bisa diterima di kehidupan kekal? Anda pintar sekali mengarang cerita. Anda buat cerita tentang seseorang yang tidak pernah berbuat dosa, at least cuma beberapa kali. Toh juga ga ada yang bisa seperti itu. Manusia bahkan tidak menyadari seberapa jauh dia telah berdosa, meskipun manusia tidak menyadarinya. Manusia akan selalu berdosa, seberapa intens pun dia berbuat baik. Bukan amal baik yang menyelamatkan manusia. Tapi pengakuan akan ketidakberdayaan diri. Jadi maksud Anda penjahat-penjahat tidak akan masuk surga. Anda tidak bisa menebak Allah. Jangan pernah menghakimi orang jahat. Kalau menurut Anda masuk surga bisa dengan cara dari cerita di atas tersebut, Anda harusnya cuma sholat, makan, dan tidur. Jangan2 kalau anda melakukan kegiatan lain, anda telah berbuat dosa.
Tanggapan M Shodiq Mustika:
Anda salah paham. Kesalahpahaman ini terjadi mungkin karena Anda membaca cerita di postingan Berkat Sedekah Sepotong Roti, lalu mengambil kesimpulan sendiri tanpa menyimak keterangan saya di bawah cerita tersebut pada postingan itu sendiri.
Anda berkata, “Anda pintar sekali mengarang cerita.” Padahal, saya TIDAK mengarang cerita tersebut. Di bawah cerita tersebut sudah langsung saya cantumkan keterangan:
Demikianlah kisah dan wasiat yang dituturkan oleh Abu Musa al-Asy’ari r.a. menjelang wafatnya. Sumber cerita: Ibnu Jauzi, Shifatush Shafwah, I/560-561.
Anda menyangka, “Kalau menurut Anda masuk surga bisa dengan cara dari cerita di atas tersebut, Anda harusnya cuma sholat, makan, dan tidur.” Persangkaan Anda ini bertolak-belakang dengan keterangan saya di akhir postingan tersebut:
… Jangan pula terlalu mengandalkan amal yang kita pandang besar, karena barangkali justru bernilai kecil dalam pandangan Allah.
Menurut Anda, “Bukan amal baik yang menyelamatkan manusia. Tapi pengakuan akan ketidakberdayaan diri.” Namun menurut firman Allah, kriteria masuk surga bukan begitu. Kriterianya adalah beriman dan beramal baik. “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal baik … di bawah mereka mengalir sungai-sungai di dalam surga yang penuh kenikmatan.” (QS Yunus [10]: 9)
Anda mengatakan, “Anda tidak bisa menebak Allah.” Ya, benar begitu. Karena itulah saya tidak menebak-nebak kriteria untuk masuk surga. Kriteria itu kita dapatkan dari penjelasan Allah sendiri yang menyebutkannya dalam firman-Nya seperti pada ayat di atas dan sejumlah ayat lainnya.
Anda mengatakan, “Manusia akan selalu berdosa, seberapa intens pun dia berbuat baik.” Memang demikian. Kelak akan ditimbang, mana yang lebih berat antara dosa kita dan amal baik kita. Pada akhir cerita yang kita bicarakan ini pun sudah disebutkan:
Amal ibadahnya selama tujuhpuluh tahun kalah berat terhadap timbangan dosanya yang dilakukan tujuh hari tujuh malam. Adapun pahala yang didapat karena memberikan sepotong roti itu ternyata lebih berat daripada timbangan dosanya yang dilakukan tujuh hari tujuh malam itu.
Timbangan amal baik sebagai kriteria untuk masuk surga seperti itu tak jarang disebutkan dalam firman Tuhan. Di antaranya: “Kami akan memasang timbangan yang tepat pada hari kiamat, maka tiadalah dirugikan seseorang barang sedikit pun. Dan jika [amalnya] itu hanya seberat biji sawi pun, pasti Kami mendatangkan [pahala]-nya. Dan cukuplah Kami menjadi Penghitung [amal].” (QS al-Anbiya’ [21]: 47)
Oh ya, Anda mengatakan, “Seorang Kristen tidak boleh memakai nama Tuhan dengan sembarangan apalagi bersumpah.” Ya, orang Islam pun begitu. Namun dalam cerita yang kita bicarakan ini, sang pendeta menyebut nama Tuhan TIDAK secara sembarangan. Begitu pula sumpahnya. Ia melakukannya karena berada dalam keadaan terancam fitnah. Dalam keadaan darurat seperti ini, mengucap sumpah dengan menyebut nama Tuhan tidaklah salah.
Demikianlah penjelasan saya. Semoga Anda tidak lagi salah-paham. Aamiin.
