Kita Memang Bodoh, Tapi….

Pada hari-hari belakangan ini, aku sering merasa gundah menyaksikan kebodohan kita pada zaman ini. Lihat media di sekitar kita. Televisi penuh dengan kebodohan. Radio penuh dengan kebodohan. Media cetak pun penuh dengan kebodohan.

Di televisi-televisi kita saksikan kekerasan, permusuhan, foya-foya. Kita reguk hiburan yang nyaris tanpa batas, seolah-olah tiada Hari Akhir. Dan kita tidak menyadari apa yang dicatat oleh malaikat pencatat amal. Bodoh, ‘kan?

Di radio-radio kita dengarkan lagu-lagu cengeng. Hati kita yang kesepian, dan merasa kehilangan segalanya, kita tuangi dengan pelipur lara yang hanya sementara. Dan kita tidak peduli apa yang dicatat oleh malaikat pencatat amal. Bodoh, ‘kan?

Di media-media cetak yang katanya islami pun kita simak suara hati yang membara. Hati kita panas lantaran nafsu amarah, nafsu merasa benar sendiri, dan segala nafsu lain yang tidak kita sadari. Orang-orang lain (yang tidak segolongan dengan kita) kita juluki: munafiq, kafir, musuh Islam, dan lain-lain. Diri kita sendiri kita namai: muslim, mukmin, pembela Islam, bla bla bla. Padahal, kita tidak tahu apa yang dicatat oleh malaikat pencatat amal. Bodoh, ‘kan?

Dalam kegundahan, di kamar kerjaku, petak 3×3 meter, ruang pojok paling belakang di rumahku, aku suka menyepi… terutama di saat sepi (tengah malam hingga dini hari). Aku merenung….

Kubayangkan bahwa pada seusiaku saat ini, Muhammad saw. pun suka menyepi (di gua Hira)…. Tatkala Jibril berseru iqra’ (bacalah), beliau menjawab: “aku tidak bisa membaca”. Tampaknya beliau merasa bodoh di hadapan malaikat penyampai wahyu. Aku pun merasa bodoh, teramat bodoh, “di hadapan” malaikat pencatat amal. What can I do?

…. Iqra’ wa rabbukal akram. Bacalah dan siarkanlah; Tuhanmu Mahamulia.
… alladzii ‘allama bil qalam. [Dialah] Yang mengajar [baca-tulis] dengan pena.
… ‘allamal insaana maa lam ya’lam. [Dia] mengajarkan manusia apa-apa yang tidak diketahuinya.

Jadi, kita memang bodoh, tapi… Tuhan kita mengajari kita apa-apa yang belum kita ketahui. Maukah kau bersamaku menjadi “murid”-Nya yang menyiarkan ilmu-ilmu-Nya?


About this entry