Tak Sebaik Musa, Tak Seburuk Firaun
Pada suatu Jumat, Khalifah al-Makmun mengunjungi Bashrah secara diam-diam. Ia ikut bershalat di masjid agung kota ini. Tiba-tiba sang khatib dalam khutbahnya menyebut nama Khalifah dengan nada tak sopan dan menuduh keculasan-keculasannya secara kasar. Bahkan, di antara doanya, “Mudah-mudahan khalifah yang sewenang-wenang ini dilaknat oleh Allah SWT.”
Tak lama kemudian, khatib tersebut diperintahkan datang menghadap ke istana. Setengah dipaksa, ia mau juga mengunjungi Khalifah.
Kepada khatib yang keras itu, al-Makmun bertanya, ”Kira-kira, manakah yang lebih baik, Anda ataukah Nabi Musa?”
Tanpa berpikir lagi, sang khatib itu menjawab, “Sudah tentu Nabi Musa lebih baik daripada saya.”
“Ya, ya. Saya pikir begitu,” sahut al-Makmun. “Lalu, siapakah yang lebih buruk menurut pendapat Anda, saya ataukah Fir’aun?”
Jawabnya, “Dalam pikiran saya, Fir’aun masih lebih buruk daripada Tuan.”
Al-Makmun kemudian menegur, “Seingat saya, bagaimanapun buruknya Fir’aun, sampai ia mengklaim bahwa dirinya adalah tuhan, toh Nabi Musa diperintahkan Allah untuk berkata lembut kepada si lalim itu. Dapatkah Anda membacakan perintah Allah yang termuat dalam Al-Qur’an tersebut?
Sang khatib membacakan surat Thaha ayat 44 yang artinya: “Hai Musa dan Harun! Berikanlah kepada Fir’aun nasihat-nasihat yang baik dengan bahasa yang halus. Mudah-mudahan ia mau ingat dan menjadi takut kepada Allah.”
About this entry
You’re currently reading “Tak Sebaik Musa, Tak Seburuk Firaun,” an entry on nge-Blog Asyik
- Published::
- 12.3.06 / 2pm
- Category:
- Kisah Cantik
No Comments
Jump to comment form | comments rss [?]